Ternyata Ini Faktor Penyebab Hak Gono-Gini Hilang

Faktor-Hak-Gono-Gini-Hilang-Ternyata-Ini-Penyebabnya

Harta gono-gini setelah perceraian bisa saja hilang apa penyebabnya? Ikuti bahasan Faktor Hak Gono-Gini Bisa Hilang di bawah ini. Hak soal harta keluarga ini penting dipikirkan demi pembagian yang adil.

Banyak faktor–faktor yang menghilangkan hak atas gono–gini yang banyak orang tidak tahu. Padahal pengetahuan ini penting demi bisa mengajukan gugatan soal pembagian harta tersebut.

Faktor Hak Gono-Gini Hilang Ternyata Ini Penyebabnya

Urusan faktor yang bisa hilangkan hak gono – gini biasanya ekstrim. Kebanyakan faktor hanya pengaruhi jumlah yang bisa Anda dapatkan. Saat ada faktor yang hilangkan kemampuan Anda dapatkan harta bagian, pasti ada kesalahan yang Anda lakukan atau keadaan memang tidak mendukung. Berikut adalah bahasan faktor – faktor-nya:

Sudah Melakukan Perjanjian Pernikahan Tentang Pelepasan Hak

Jika sudah membuat perjanjian pernikahan sebelumnya soal pelepasan hak gono – gini, hal ini bisa berlaku di meja hijau. Perjanjian pernikahan selalu dapat status lebih tinggi dibandingkan keputusan hakim saat sidang perceraian.

Memiliki Status Kriminal Serius

Tergantung kasus yang dihadapi, seorang kriminal bisa kehilangan hak gono – gini. Contoh saja pembunuh dan teroris yang ditahan seumur hidup.

Karena status tahanan, pihak pasangan bisa mengajukan perceraian dan menghilangkan hak gono – gini si kriminal Tapi kasus ini harus benar – benar serius. Biasanya hakim akan memutuskan apakah status kriminal bisa hilangkan hak gono – gini.

Sudah Meninggal Dunia atau Dinyatakan Menghilang

Saat seseorang sudah dinyatakan meninggal ataupun hilang secara hukum, dirinya tidak memiliki status lagi. Pihak yang menikah dengan orang tanpa status bisa mengajukan cerai dan mengambil kekayaan keluarga untuk dikelola.

Saat pihak yang dinyatakan meninggal atau hilang ternyata kembali, mereka tidak bisa mengajukan cerai dan meminta bagian karena sudah kehilangan hak gono – gini-nya di mata hukum.

Tidak Bisa Buktikan Harta Bukan Bawaan

Saat Anda tidak bisa buktikan bahwa harta yang dimiliki setelah menikah merupakan harta bukan bawaan, Anda bisa saja kehilangan hak pembagian harta. Kasus seperti ini sering terjadi saat suami atau istri mengambil pasangan untuk tujuan yang tidak jelas.

Contoh saja kasus perjodohan antara seorang saudagar kaya yang mengambil gadis muda desa. Saudagar ini menikahi si gadis karena orang tuanya tidak bisa bayar hutang. Dalam status ini, si gadis hanya dinikahi selama 1 bulan sebelum diceraikan.

Dari sini si gadis tidak bisa mengajukan pembagian gono – gini karena kekayaan suami sebagian besar merupakan bawaan sebelum menikah. Si gadis juga hanya dijadikan tumbal dan bukan istri sebagai keluarga.

Baca juga: Berbagai Aturan Yang Mendasari Pembagian Gono-Gini

Pengaruh Besaran Gono – Gini yang Didapat

Faktor-Hak-Gono-Gini-Hilang-Ternyata-Ini-Penyebabnya

Faktor di atas bisa menghilangkan hak Anda untuk pembagian harta. Tapi kemunculan kasus itu lebih jarang. Hal yang lebih sering terjadi adalah faktor yang mengurangi besaran gono – gini yang Anda dapatkan.

Jadi setelah tahu Faktor – faktor yang menghilangkan hak atas gono – gini, sekarang waktunya bahas sisi lain yang bisa tentukan besaran yang Anda dapat. Berikut adalah faktor – faktor tersebut:

Keputusan Hakim

Hal yang final memutuskan besaran gono – gini yang dibagi adalah hakim. Hakim yang jeli dan cermat bisa memilah bukti, saksi dan berbagai informasi lain untuk tentukan besaran yang baik bagi kedua pihak. Tapi tidak jarang keputusan hakim masih dirasa kurang pas.

Hakim adalah manusia, jadi hal seperti ini bisa terjadi. Tapi tentu saja dalam pembagian harta, faktor hakim sangatlah besar.

Kekuatan Bukti dan Saksi

Dalam persidangan bagi kekayaan karena perceraian, bukti dan saksi akan digunakan. Kedua hal ini akan menjadi basis siapa pihak yang berhak mendapatkan lebih dari harta tersebut. Contoh saja saat si suami tidak bekerja dan mahal sering judi. Saksi dan bukti yang menunjukan hal ini akan membuat hakim memberi bagian lebih pada istri.

Kekuatan bukti dan saksi bisa berbeda – beda tergantung dari kasus. Biasanya peran pengacara juga bisa memperkuat hal – hal ini. Jadi, bagi yang ingin dapatkan bagian lebih, pastikan Anda punya bukti dan saksi kuat terlebih dahulu.

Hak Asuh Anak

Pihak yang mendapatkan hak asuh anak akan memiliki peluang dapat bagian gono – gini lebih. Karena hal ini, banyak suami istri berebut hak asuh hanya karena mengejar gono – gini. Tentu hal ini tidak terpuji, tapi bisa jadi faktor yang tentukan besaran pembagian.

Status Pemasukan

Banyak perspektif dalam pernikahan memandang suami sebagai tulang punggung keluarga. Saat suami bercerai dengan istri, ia masih memiliki tanggung jawab memberi lebih. Hal ini terutama pada istri dengan status tidak berpenghasilan.

Saat suami dengan pekerjaan bercerai, dirinya bisa tetap nikmati pemasukan yang pasti. Tapi istri tak berpenghasilan memiliki resiko lebih saat bercerai.

Hal berbeda juga bisa terjadi saat istri terbukti menghambur – hamburkan uang dan menyebabkan masalah ekonomi keluarga. Dalam kasus ini walau suami memiliki status pemasukan lebih tinggi, istri biasanya mendapatkan bagian lebih sedikit.

Status pemasukan bisa jadi ukuran besaran gono – gini yang dibagikan tapi bukan final. Hal terakhir tetap pada keputusan hakim setelah menelaah perilaku, bukti dan saksi. Tapi saat semua netral, faktor ini baru bisa muncul.

Aturan Adat dan Agama

Dalam aturan di Indonesia, pembagian harta selalu rata dibagi dua. Tapi pembagian rata sering terasa tidak adil. Karena itu, ada peraturan lain yang digunakan demi keseimbangan kedua belah pihak. Biasanya pengaruh suku budaya dan agama bisa jadi patokan aturan yang lebih banyak digunakan.

Pembagian harta gono – gini sangat erat kaitannnya dengan hukum adat dan agama. Dalam beberapa scenario, Anda harus datang ke peradilan agama untuk hal ini. Tentu saja perbedaan suku budaya juga bisa berpengaruh.

Contoh perceraian dengan basis Islam di Jawa pasti akan berbeda dengan perceraian dengan adat di Papua. Keputusan peradilan seputar harta akan tergantung dari aturan yang berlaku di daerah tersebut. Walaupun sekarang banyak yang condong gunakan hukum agama, tidak jarang yang masih memandang hukum adat lebih efektif.

Sebagai contoh, dalam agama seperti Katolik, perceraian dianggap tabu. Karena hal ini, gereja tidak memberikan aturan solid untuk pembagian harta. Jika tidak bisa dapat referensi dari agama, mau tidak mau urusan pembagian jatuh pada adat.

Faktor lain tentu saja masih ada untuk bisa dapatkan besaran gono – gini yang lebih. Contoh saja dengan menggunakan pengacara yang handal. Mereka bisa membantu Anda memberikan dorongan pada hakim untuk lebih mendukung Anda. Tapi tentu menggunakan pengacara yang baik akan lebih mengeluarkan biaya.

Faktor lainnya juga tidak terlalu berkesan. 6 bahasan faktor yang di atas adalah yang paling banyak bermunculan dalam kasus pembagian harta. Jadi daripada membahas faktor yang niche efeknya, lebih fokus pada faktor major di atas.

Sekian bahasan mengenai faktor – faktor yang bisa pengaruhi hak atas gono – gini. Faktor – faktor yang menghilangkan hak atas gono – gini bisa dibilang lebih jarang terjadi. Tapi tentu saja tidak ada salahnya tahu soal ini. Mudah – mudahan bahasan di atas mampu membuka wawasan bagi Anda sekalian.

Anda dapat menghubungi IHW Lawyer di telepon 0812-1203-9060 atau email di tanya@imamhw.com untuk mendapatkan jasa pengacara yang profesional, amanah dan berpengalaman di bidangnya.

Jangan biarkan permasalahan hukum yang Anda hadapi mengurangi ketenangan hidup Anda!