Serba-Serbi Harta Waris, Cara Hitung dan Pembagiannya

Serba-Serbi Harta Waris, Cara Hitung dan Pembagiannya

 

Harta warisan merupakan harta atau materi peninggalan milik seorang yang sudah meninggal dunia baik berupa uang maupun benda. Seringkali ahli waris bingung bagaimana cara menghitung waris sesuai hukum di Indonesia maupun sesuai hukum Islam, berikut IHW Lawyers akan membahas secara komplit mengenai cara hitung dan pembagian harta warisan.

 

Apa Itu Harta Waris?

Harta waris menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu hal yang diwariskan seperti harta, benda (materi). Sedangkan kata waris sendiri mewakili orang yang berhak menerima harta dari orang yang telah meninggal.

 

Setelah seseorang wafat, maka anggota keluarga yang ditinggalkan pun harus mengurus beberapa hal, seperti proses pemakaman, menuntaskan tanggung jawab sang jenazah (hutang-piutang, misalnya), hingga persoalan pembagian harta yang ditinggalkan dengan adil kepada seluruh ahli waris yang berhak.

 

Dasar Hukum Waris

Di Indonesia sendiri ada tiga jenis hukum waris yang berlaku, yaitu: Hukum Waris menurut Islam, Hukum Waris Perdata dan Hukum Waris Adat. Sebagai Warga Negara Indonesia Anda diharuskan memilih hukum waris apakah yang akan digunakan. Uraian selengkapnya dapat Anda simak pada penjelasan di bawah ini.

A. Hukum Waris Menurut Islam

Bagaimanakah cara menentukan dan menghitung pembagian harta waris yang benar menurut syariat Islam? Berikut ini adalah penjelasan beserta contohnya.

 

1. Siapa Saja yang Berhak Menjadi Ahli Waris?

Sistem pembagian harta warisan di dalam Islam sudah mengatur secara jelas dan rinci mengenai siapa saja yang berhak menjadi ahli waris. Secara umum ahli waris dibedakan menjadi golongan pihak laki-laki dan golongan pihak perempuan.

Ahli Waris dari golongan laki-laki terdiri dari 15 pihak, yaitu:

  1. Putra
  2. Cucu dari putra
  3. Ayah
  4. Kakek/ayah dari ayah
  5. Saudara kandung laki-laki
  6. Saudara laki-laki satu ayah
  7. Saudara laki-laki satu ibu
  8. Putra dari saudara kandung laki-laki
  9. Putra dari saudara laki-laki satu ayah
  10. Suami
  11. Paman kandung
  12. Paman satu ayah
  13. Anak dari paman kandung laki-laki
  14. Anak dari paman satu ayah
  15. Laki-laki yang memerdekakan seorang budak

 

Sementara ahli waris untuk golongan perempuan terdiri dari 11 pihak, yaitu:

  1. Putri
  2. Cucu perempuan dari putra
  3. Ibu
  4. Nenek/ibu dari ibu
  5. Nenek/ibu dari ayah
  6. Nenek/ibu dari kakek
  7. Saudari kandung
  8. Saudari satu ayah
  9. Saudari satu ibu
  10. Istri
  11. Wanita yang memerdekakan seorang budak

 

Selain daftar di atas, seperti paman dari pihak ibu atau bibi, mereka masuk ke dalam

golongan dzawil arham atau orang-orang yang tidak mendapatkan bagian. Kemudian, jika

15 jenis ahli waris dari golongan laki-laki masih hidup semua, maka tiga di antaranya saja yang berhak menjadi ahli waris, yaituayah, anak, dan suami.

 

Lalu, jika 11 jenis orang dari kaum perempuan masih hidup semua, maka hanya lima saja yang berhak. Mereka adalah putri, cucu perempuan dari putra, ibu, istri, dan saudari kandung.

Selanjutnya, jika semua masih ahli waris ini masih hidup, maka yang berhak adalah 5 saja. Mereka adalah ayah, putra, suami/istri, putri, dan ibu.

 

 

2. Contoh Penghitungan Pembagian Harta Waris dalam Islam

Karena di dalam penerapannya terdapat beragam jenis situasi (perbedaan jumlah dan jenis

ahli waris yang masih hidup), maka para ulama membuat dua kategori kaidah untuk

mempermudah perhitungan. Kaidah tersebut adalah

 

– Untuk bagian 1/2 , 1/4, dan 1/8 dari harta waris

– Untuk bagian 2/3, 1/3, dan 1/6 dari harta waris

 

Berikut adalah perinciannya

a) Berhak atas 1/2 harta waris

Mereka adalah

– Anak perempuan tunggal

– Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki

– Saudara perempuan kandung

– Saudara satu ayah, jika poin 3 tidak ada

– Suami, jika yang wafat adalah istri yang tidak memiliki anak

 

b) Berhak atas 1/3 harta waris

Mereka adalah

– Ibu, jika si jenazah tidak memiliki anak/saudara perempuan

– 2 orang saudara perempuan/lebih, jika tidak memiliki anak/orang tua

 

c) Berhak atas 1/4 harta waris

Mereka adalah

– Suami, jika yang wafat adalah istri yang memiliki anak

– Istri, jika yang wafat adalah suami yang tidak memiliki anak

 

d) Berhak atas 1/6 harta waris

Mereka adalah

– Ibu, jika hidup dengan anak/cucu dari anak laki-laki

– Ayah, jika hidup dengan anak/cucu

– Kakek, jika hidup dengan anak/cucu sementara ayah tidak ada

– Nenek, jika tidak ada ibu

– Saudara seibu, jika tidak memiliki anak

 

e) Berhak atas 1/8 harta waris

Mereka adalah

– Istri, jika yang wafat adalah suami yang memiliki anak

 

f) Berhak atas 2/3 harta waris

Mereka adalah

– 2 putri/lebih, jika tidak ada putra

– 2 cucu perempuan/lebih dari putra, jika tidak ada putri

– 2 saudara kandung perempuan atau lebih

– 2 saudara/lebih yang satu ayah, jika saudara kandung perempuan tidak ada

 

Demikianlah penjelasan singkat tentang bagaimana cara menghitung pembagian harta waris dalam Islam.

Baca juga: Cara Menyelesaikan Pembagian Harta Gono-gini Dengan Baik dan Adil

 

B. Hukum Waris Perdata

Berdasarkan prinsip dasar hukum pewarisan apabila seorang pewaris beragama selain Islam (non-muslim) meninggal dunia, maka aturan yang digunakan adalah sistem pewarisan berdasarkan Hukum Waris Kitab Undang-undang Hukum Perdata atau yang sering kita sebut KUHPerdata.

 

Pada Hukum Waris Perdata yang berhak mewarisi hanyalah kerabat yang memiliki hubungan darah dengan pewaris. Ahli Waris menurut KUHP dibagi menjadi 4 golongan yaitu:

Golongan 1

Pada golongan ini penerima waris adalah pasangan sah (suami/istri) yang hidup terlama dan anak-anak pewaris. Pada kasus ini harta yang diberikan bersifat mutlak dalam artian tidak dapat dipindahtangankan kepada Golongan kedua selama ahli waris pada golongan I ini masih hidup.

 

Terdapat ketentuan dalam pasal 852 KUHP yang berbicara mengenai waris seorang anak yang berbunyi:

“Anak-anak atau keturunan-keturunan, sekalipun dilahirkan dan berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan para orangtua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga-keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dulu.”

 

“Mereka mewarisi bagian-bagian yang sama besarnya kepala demi kepala, bila dengan yang meninggal mereka semua bertalian keluarga dalam derajat pertama dan masing-masing berhak karena dirinya sendiri; mereka mewarisi pancang demi pancang, bila mereka semua atas sebagian mewarisi sebagai pengganti.”

 

Pasal diatas menyatakan bahwa anak yang memiliki hubungan darah dengan orangtuanya berhak menerima waris.

 

Anak-anak di luar hubungan perkawinan, berdasarkan Pasal 862 – 866 KUHPerdata,  juga berhak mendapatkan pewarisan sepanjang telah diakui secara sah dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. 1/3 apabila pewaris memiliki anak atau istri/suami yang sah;
  2. 1/2 apabila pewaris meninggalkan keluarga sedarah, tetapi tidak memiliki keturunan sah, suami/istri;
  3. 3/4 apabila ahli waris sah tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan derajat yang lebih jauh dan;
  4. seluruh harta waris apabila pewaris tidak meninggalkan keturunan sah atau keluarga sedarah.

 

Golongan 2

Pada golongan kedua penerima waris yaitu bapak, ibu, atau saudara kandung dari pewaris. Ahli waris ini baru bisa mendapatkan bagian jika golongan pertama tidak ada.

 

Ketentuan hukum mengenai ahli waris golongan kedua ini diatur dalam pasal 854- 856 KUHP yang berbunyi:

 

Pasal 854

“Bila seseorang meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan dan suami atau isteri, maka bapaknya atau ibunya yang masih hidup masing-masing mendapat sepertiga bagian dan harta peninggalannya, bila yang mati itu hanya meninggalkan satu orang saudara laki-laki atau perempuan yang mendapat sisa yang sepertiga bagian.Bapak dan ibunya masing-masing mewarisi seperempat bagian, bila yang mati meninggalkan lebih banyak saudara laki-laki atau perempuan, dan dalam hal itu mereka yang tersebut terakhir mendapat sisanya yang dua perempat bagian.”

 

Pasal 855

“Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan suami atau isteri, dan bapak atau ibunya telah meninggal lebih dahulu daripada dia, maka bapaknya atau ibunya yang hidup terlama mendapat separuh dan harta peninggalannya, bila yang mati itu meninggalkan saudara laki-laki atau perempuan hanya satu orang saja; sepertiga, bila saudara laki-laki atau perempuan yang ditinggalkan dua orang; seperempat bagian, bila saudara laki-laki atau perempuan yang ditinggalkan lebih dan dua. Sisanya menjadi bagian saudara laki-laki dan perempuan tersebut.”

 

Pasal 856

“Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan seorang keturunan ataupun suami dan isteri, sedangkan bapak dan ibunya telah meninggal lebih dahulu, maka saudara laki-laki dan perempuan mewarisi seluruh warisannya. “

 

Golongan 3

Pada golongan ketiga penerima waris yaitu kakek dan nenek dari keluarga ibu atau bapak kandung pewaris. Mereka berhak memperoleh harta waris ketika golongan 2 tidak ada atau mengabaikannya.

 

Aturan pembagian waris pada golongan ketiga ini terdapat pada KUHP pasal 853- 858 disebutkan bahwa, ahli waris harus memiliki hubungan darah dengan Ibu atau Bapak kandung keatas. Jika kekerabatannya memiliki derajat kedekatan yang sama, maka harta waris dibagi rata.

 

Sebaliknya jika ada kerabat yang derajat hubungannya lebih dekat; maka pewaris harus mengutamakan ahli waris ini. Salah satunya terdapat pada pasal 854 yang berbunyi:

 

“Bila seseorang meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan dan suami atau isteri, maka bapaknya atau ibunya yang masih hidup masing-masing mendapat sepertiga bagian dan harta peninggalannya, bila yang mati itu hanya meninggalkan satu orang saudara laki-laki atau perempuan yang mendapat sisa yang sepertiga bagian.Bapak dan ibunya masing-masing mewarisi seperempat bagian, bila yang mati meninggalkan lebih banyak saudara laki-laki atau perempuan, dan dalam hal itu mereka yang tersebut terakhir mendapat sisanya yang dua perempat bagian.”

Golongan 4

Pada golongan ketiga penerima waris yaitu apabila penerima waris golongan ketiga tidak ada atau mengabaikannya. Golongan keempat ini adalah keluarga kandung dari orangtua pewaris, semisal paman dan bibi. Adapun pembagian waris pada golongan keempat ini diatur dalam pasal 858, 861, dan 873 KUHP.

 

Berikut ini bunyi ketentuan dalam Pasal 858 yang mengacu pada Pasal 853 KUHP :

“Bila tidak ada saudara laki-laki dan perempuan dan juga tidak ada keluarga sedarah yang masih hidup dalam salah satu garis ke atas, maka separuh harta peninggalan itu menjadi bagian dan keluarga sedarah dalam garis ke atas yang masih hidup, sedangkan yang separuh lagi menjadi bagian keluarga sedarah dalam garis ke samping dan garis ke atas lainnya, kecuali dalam hal yang tercantum dalam pasal berikut.

 

Bila tidak ada saudara laki-laki dan perempuan dan keluarga sedarah yang masih hidup dalam kedua garis ke atas, maka keluarga sedarah terdekat dalam tiap-tiap garis ke samping masing- masing mendapat warisan separuhnya. Bila dalam satu garis ke samping terdapat beberapa keluarga sedarah dalam derajat yang sama, maka mereka berbagi antara mereka kepala demi kepala tanpa mengurangi ketentuan dalam Pasal 845.”

C. Hukum Waris Adat

Hukum waris adat merupakan hukum waris yang diyakini dan dijalankan oleh suatu suku tertentu di Indonesia.

 

Ada beberapa hukum waris adat aturannya tidak tertulis, namun sangat dipatuhi oleh masyarakat pada suku tertentu dalam suatu daerah, dan bila ada yang melanggarnya akan diberikan sanksi secara adat.

 

Jenis hukum waris adat ini banyak dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan serta stuktur kemasyarakatannya. Selain itu jenis pewarisannya pun juga bermacam-macam, seperti :

 

  1. Sistem Keturunan
    Pada sistem keturunan dibedakan menjadi tiga macam yaitu garis keturunan bapak, garis keturunan ibu, serta garis keturunan keduanya
  2. Sistem Individual,
    Pada sistem Individual, jenis pembagian warisan berdasarkan bagiannya masing-masing, umumnya banyak diterapkan pada masyarakat suku Jawa.
  3. Sistem Kolektif
    Pada sistem waris kolektif pembagian warisan dimana kepemilikannya masing-masing ahli waris memiliki hak untuk mendapatkan warisan atau tidak menerima warisan. Umumnya bentuk warisan yang digunakan dengan jenis ini adalah barang pusaka pada masyarakat tertentu.
  4. Sistem Mayorat
    Merupakan sistem pembagian warisan yang diberikan kepada anak tertua yang bertugas memimpin keluarga. Contohnya pada masyarakat lampung dan Bali.

Baca juga: Cara Menghitung Pembagian Harta Gono-Gini Dalam Islam

 

Merencanakan Harta Waris

Salah satu yang pasti dan tidak dapat kita prediksi adalah kematian, dan waktu datangnya kematian hanya Sang Kuasa yang mengetahui. Merencanakan harta waris masih merupakan kegiatan yang tabu, namun sebenarnya membuat perencanaan harta waris ini tidak kalah penting urgensinya dengan perencanaan lain seperti perencanaan dana pensiun, pendidikan anak, dana darurat, dan perencanaan asuransi.

 

Untuk itu merencanakan harta waris merupakan sesuatu yang amat penting. Apabila Anda telah merencanakan waris sebelumnya Anda tidak perlu was-was nantinya apabila waktu telah datang, karena Anda telah menyusun perencanaan yang matang untuk ahli waris yang Anda tinggalkan. Lain hal jika Anda tidak mempersiapkannya kegaduhan dan mungkin perselisihan antar sanak saudara bukanlah hal yang mustahil terjadi (bahkan hal yang lumrah terjadi).

Pentingnya Merencanakan Warisan

Ada banyak alasan mengapa Anda harus mulai memikirkan merencanakan dan mempersiapkan warisan atau surat wasiat.

  1. Mencegah harta waris jatuh ke tangan pihak yang tidak berhak.
  2. Mencegah konflik pembagian harta waris dan termasuk juga gono-gini antar keluarga.
  3. Memastikan kehidupan pasangan dan anak-anak Anda akan terjamin setelah kepergian Anda.
  4. Konflik perebutan waris dapat menyebabkan hilangnya aset atau membuat aset tersebut menjadi terbengkalai.
  5. Mengantisipasi kesulitan-kesulitan administratif di masa depan.
  6. Dengan adanya perencanaan waris maka pembagian aset yang dimiliki akan diberikan dengan jumlah yang tepat kepada keluarga sesuai ketentuan dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Cara Merencanakan Harta Waris

Perencanaan warisan merupakan pelindung kepemilikan aset, misal apabila memiliki aset yang diagunkan ke bank, tentunya Anda harus memikirkan jalan keluar apabila sesuatu terjadi sebelum hutang itu lunas. Dengan begitu aset menjadi milik keluarga Anda bukan menjadi milik bank.

 

Hakikat utamanya adalah pewaris tidak hanya menerima harta, namun mereka juga harus menerima hutang. Karena itu, penting untuk Anda untuk merencanakan pembuatan wasiat.

 

Berikut merupakan langkah untuk membuat surat wasiat:

  1. Kumpulkan seluruh informasi aset
    Kumpulkan segala informasi tentang aset, harta, kekayaan, beserta semua informasi pajak yang sudah dibayarkan atau yang belum dibayarkan. Apabila warisan dalam bentuk rumah maka informasi seperti alamat rumah, luas rumah, dan perkiraan harga NJOP (harga objek pajak). Juga informasi bahwa rumah tersebut dimiliki secara utuh atau masih memiliki angunan di bank.
  2. Merincikan secara detail
    Perincian dibutuhkan apabila Anda memiliki saham atau obligasi. Rincikan mulai dari jumlah, nilai, dan dividen dan hal lainnya.
  3. Menyiapkan data pribadi dan keluarga
    Dalam surat wasiat Anda harus menyiapkan data pribadi anda dan seluruh keluarga penerima waris.
  4. Mengetahui estimasi biaya yang dibutuhkan
    Anda memerlukan riset mengenai biaya serta menentukan dimanakah wasiat itu ingin dibuat. Anda dapat menggunakan pengacara waris seperti IHW Lawyer.

 

Demikian merupakan pembahasan mengenai harta waris, hukum, dan bagaimana pembagiannya. Apabila Anda membutuhkan pengacara waris Anda dapat menghubungi IHW Lawyer.

 

IHW Lawyer merupakan kantor hukum yang dapat membantu Anda dalam merencanakan waris/ wasiat, menyelesaikan sengketa warisan dan menangani berbagai macam kasus hukum di wilayah Indonesia. Hubungi IHW Lawyer di 0812-1203-9060 atau tanya@imamhw.com

× How can I help you?